Dad

Happy bday, dad

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.

💟 Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa” 💝

🌻 “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil” 🌼

Marry Me

saya dan dia sedang berputar-putar di selatan kota dalam mobil lamanya. kelaparan yang sempat terlupakan karena waktu ketemu yang selalu terlalu sebentar rasanya, malam itu dia memutuskan kami mampir saja ke tempat jajanan seadanya.

(tentang tempat itu. tempat jualan penganan yang berragam dan semuanya dengan cita rasa kampung dan gurih berlebihan. kami pernah menyambanginya sebelumnya – ia tau saya suka betul kalau ia mengajak saya ke tempat-tempat unik demikian. saat itu tempat itu adalah salah satunya. tampilannya biasa saja, bangunan semi permanen yang menempel pada rumah sakit kelas atas di bilangan selatan. mungkin setiap tempat memang jadi istimewa kalau ia yang membawa saya mengunjunginya.)

dari jalurnya, mobilnya menepi menyilang. kami parkir di kanan jalan.

sebelum kami keluar, radio melantunkan lagu lama yang sebelumnya hanya jadi latar belakang obrolan kami, tadinya tidak betul-betul kami dengarkan. irama dan jenis lagunya sama sekali bukan kegemarannya, tapi ia menangkap sepotong liriknya.

tuh, katanya. saya sudah tau kalimat mana yang dimaksudnya. saya berpura-pura sebentar menunggu. penyanyinya mengulang bait yang sama. i think i wanna marry you.

saya bisa merasakan pipi saya menghangat, tersipu dan kehilangan kata cerdas yang harusnya saya lontarkan dalam lagak canda ringan, sekadar menunjukkan saya tidak sebegitunya termehek-mehek apalagi terpesona. ia keluar mobil. saya menenangkan hati yang berdebar sebelum menyusulnya keluar. ia menunggu saya berdiri di sisi depan mobil. setelah saya menjajarinya, kami bersama melangkah ke pangkalan jajanan, bertingkah seperti biasa saja, memesan makanan yang tinggal seadanya, dan saya tidak lagi merona.

malam itu sebtulnya kami telah menikah untuk beberapa waktu lamanya. bahwa ia menangkap lirik menye-menye begitu dan menyorongkannya lagi ke hadapan hati saya, mengharubiru saya. mungkin ia becanda, mungkin ia cuma tidak ingin romantisme kami kadaluarsa. nyatanya, lirik seadanya itu menyentuh hati saya.

touches me still, remembering it, tenderly.

i love you always, #pohonjati.

Mencari Hantu Masa Lalu Saat Makan Siang

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi pada suatu hari dimana saya mendapat kesempatan untuk ngobrol panjang sambil makan siang enak dan banyak dengan seorang editor penerbitan besar.

Mbak editor ini sejak awal perkenalan sudah terkesan ‘asik-asik aja’ dan gak ribet. Baru pada saat ngobrol panjang itu saya dapati bahwa si mbak juga lugas dan jujur. Soal bahwa ia cerdas dan bagaimana pengetahuannya akan buku dan bacaan begiu banyak, saya ngga terlalu salut karena jabatannya memang mensyaratkan itu dan mengisyaratkannya pada siapa yang tau akan posisi dan tempat kerjanya.

Yang saya mau ceritakan di sini adalah bagaimana kelugasan dan kejujuran seseoranglah yang membuat kita bisa banyak belajar. Bukan karena si mbak cerdas aja. Bukan karena ia asik dan friendly aja. Bukan karrna posisi dan jabatannya.

Dan si mbak mengajarkan saya untuk mempertimbangkan apakah saya perlu mencari hantu masa lalu saya. Kalaupun tidak ada, saya perlu mencari sesuatu yang bisa memacu saya.

Mengapa hantu? Apa yang perlu dipacu?

Brawal dr mbak editor nemuin tulisan saya di suatu buku, lalu tertarik menerbitkannya. Cerita-cerita saya pun saya kumpulkan, lalu dibaca oleh si mbak. Dan siang itu adalah pertama kali kami ngebahasnya.

Yang pertama dan langsung disampaikannya adalah, bahwa cerita-cerita saya yg mnurutnya adlh kritik sosial dgn gaya penulisan yg bagus (biasalah pujian dtg duluan… 😋) masih butuh keragaman tema (tangkapan saya adlh tema cerita tentunya). Lalu sebaliknya, ada beberapa cerita yg bernuansa sama sekali berbeda, yg membuat keseluruhan ‘paket’ jadi seperti kabur fokusnya.

(Yg dimaksud mbak editor tentunya adlh cerita2 cinta yg terilhami dari kisah orang2 yg saya temui.. yg emang sy masukkan aja dalam paket saya karena memang begitulah hati dan pikiran saya – ngga melulu soal kritik ngga melulu soal cinta).

Sy beruntung karena mbak editor ini dengan sgala kritiknya ternyata menyukai karya saya. Ia membandingkan tulisan saya dgn penulis perempuan lain (otomatis saja, bukan berarti kami jadul dan mengotak-kotakkan diri dlm apa yg dulu sering disebut org sbg sastra wangi). Beberapa penulis terkenal rupanya bukan favoritnya, karena ringan dan seadanya. Beberapa dianggapnya dibayangi hantu masa lalu, sehingga cerita mereka selalu bgitu dan dibaca seakan sama melulu. Bagus  krn tajam di satu sisi, jadi membosankan di sisi lainnya.

Saya disebutnya tidak punya hantu masa lalu. Tanpa kenal saya sebelumnya, ia menebak;

“Kamu ini masa lalunya pasti bahagia. Mamanya siapin masakan enak, papanya rame. Pulang sekolah diantar jemput. Ngga ada yg ngebully – itu liat di crita kamu ngga ada kan ttg org dibully?”

Lalu, diteruskannya demi mengingat pekerjaan sambilan saya sebagai peneliti dan 2 cerita saya sebelumnya yg saya bocorkan merupakan hasil rekayasa kisah kehidupan orang yg saya temui saat penelitian di banjarmasin dan balikpapan;

“Kamu itu sensitif banget, td aku crita aja kamu trenyuh ampe kyq gitu. Kamu trenyuh, org koq bisa kayaq gitu, gimana rasanya, gitu. Kamu nulis krn kegelisahan. Tapi ya gitu, jdnya, saat nulis yg kamu pikir; ‘orang miskin mana lagi yaa yg aku tulis?’ “

I laughed at her last comment. Mana pula dilakukannya sambil membayangkan tingkah saya: kdua siku bertelekan di meja, kedua tangan bertemu pd ujung2 jari dan saling menepuk2 ringan.. berpikir keras..

Tapi itu sebetulnya bukan laughing matter. Itu serius sekali, masukannya. Dan… betul sekali, bgmn ia bayangkan kegelisahan sy yg kurang menggurat tajam krn seringkali lbh berupa gabungan kemarahan, rasa ktdkberdayaan, pikiran ktdkmampuan mncerna apa yg sbtulnya trjadi.

Pikiran saya majemuk dan kalut sendiri, tertuang dlm tulisan yg warna warni, kurang bergigi. Saya tdk punya hantu masa lalu, sy mngamati dlm sangkar kniscayaan2 dan kemengaliran hidup sy, melihat hantu2 org berlalu. Sy terharu, mngutipnya, tapi duka org tdk lalu terinternalisasi dlm kata.

Mbak editor meminta sy lbh byk lg membaca. Sy memang jujur bilang kalau sy kurang byk membaca – beli buku, sering dan byk. Baca buku, jarang. Dgn membaca, ngga hanya mendengarkan cerita org dan terlara-lara sendiri saat merasakannya, sy bisa belajar bagaimana org bermain dgn kata, dan mnggunakan utk menguatkan rasa.

Saya berterimakasih sekali pd mbak editor ini. Belakangan ia cerita tentang masa kecilnya – yg membuat sy tertawa skaligus ngerasa nyeri di dada. Masa lalu kmi memang sgt berbeda. Mungkin itu pula sebabnya ia bisa menebak dgn begitu tepat ttg masa lalu saya. Kalau lbh lama lg wktu yg kami punya utk ngobrol, sy hampir yakin pasti mbak editor bisa menebak koleksi sanrio sy saat kecil, sgala macam les yg tdk pernah sy tuntaskan, hari2 sekolah yg sy pakai buat bolos sekolah dan jalan2 sm orgtua sy atau buat tidur2ran aja di rmh krn sy malas bangun pagi dan mama ijinkan sy dr keharusan masuk sekolah.

Sy tdk punya hantu masa lalu. Tdk berarti agar punya tulisan bagus dan karya dgn kualitas yg konsisten hal itu jd perlu. Tp saya butuh sesuatu yg membuat sy terpacu. Sesuatu yg membuat sy merangkai kata tdk hanya utk menyampaikan cerita, tapi yg juga bisa menggelorakan rasa.

🐰 Mengantar Raj Tidur 💔

Beberapa saat lalu, saat raj mendadak sakit keras dan lemas, dokter hewan kami sudah pesimis dan minta saya sabar dan pasrah. Usia raj 4 tahun saat itu.

image

Saya bersikeras dan sungguh-sungguh memohon pd Pencipta Alam agar raj diberi kesembuhan, dan saya diberi jalan dan kesabaran untuk merawatnya. Beberapa malam saya bangun setiap 2 jam, menyuapi raj dengan vitamin dan asupan lain, mengisi ulang warmer penghangat badan, mengganti alas tidur dan selimutnya krn raj diare hebat juga, membalik-balikkan arah tidurnya agar mengurangi pegal dan discomfortnya.

image

Pencipta Alam masih sayang pd saya, tau kalau saya sungguh-sungguh sayang pada raj, dan raj disembuhkan.

Pada hari ke5 raj sudah bisa berdiri lagi. Setelah tepat seminggu raj sudah lincah lagi.

image

Raj punya tempat spesial di hati karena di antara yang lain raj paling jual mahal, bandel, dan jarang mau disayang-sayang. Bener-bener bikin penasaran. Tapi kalau lagi keluar manjanya, raj justru mendului mendatangi saya untuk sekadar mengendus2 kaki saya.

Karena rumah sedang dibenahi dan kami tinggal dengan papa sekeluarga lagi, raj dan keluarganya saya titipkan ke petshop langganan kami. Papa ngga suka teman-teman berbulu saya karena mengotori halaman dan rumah. Saya paham karena sejak kecil meski saya selalu punya teman hewan papa memang selalu ngga sepenuhnya setuju. Raj hanya datang mengunjungi saya sesekali, lalu sorenya dibawa pergi lagi.

Waktu tadi ditelpon staf petshop dan dikabari bajwa raj mendadak kejang-kejang, hati saya seperti langsung tenggelam, sperti mimpi saya semalam. Dua hari lalu saya tiba2 kangen sekali sama raj dan ingin minta staf petshop untuk antarkan raj ke rumah papa. Tapi karena papa sedang sakit, saya ngga berani untuk melakukan sesuatu yg jelas-jelas ngga disuka papa. Karenanya saya urung minta raj didatangkan sejenak.

Telepon pak min staf petshop buat saya seperti sudah final. Rasanya raj ngga bisa diselamatkan. Yang sedih dan bikin devastated adalah menurut pak min sampai siang tadi raj masih baik2 saja.

Waktu raj didatangkan ke rumah, tubuh raj masih hangat, meski sudah kaku. Bulunya bersih sekali. Saya menangis cukup lama, tergores hati saya membayangkan raj sempat ngerasa kesakitan sebelum ditinggalkan nyawanya. Mama yang paling mengerti bagaimana saya kepada teman-teman peliharaan saya memberikan secarik kain putih untuk menyelimuti raj dalam pemakamannya.

image

Raj sekarang sudah dimakamkan, dibungkus kain putih bersih dari mama. Hati saya masih tenggelam rasanya dan belum-belum sudah kangen raj. Saya bilang pada raj yang sudah kaku untuk tidur saja yang tenang karena raj sudah ngga akan kesakitan lagi.

Raj spertinya mengerti, wajahnya masih seperti sedang tidur saja. Sayang sekali saya sama raj.

💗 Pada Perpustakaan 💟

sore itu
aku tertidur pada tumpukan buku
kepalaku layu pada lipatan tangan yang menopang dagu
kamu datang mengecup keningku
dan mataku yang sayu
“ayo, kita kenalan dulu”

tiba adzan aku eja namamu
lirih ragu seperti terlalu lama menunggu
sementara kamu yakin kita tepat waktu
ya betul waktu pernah lalui kita
tapi kali ini kamu keras kepala
“ayo, begini caranya bercinta”

aku bergelung pada halaman buku
kamu mencangklong ranselmu dan
selipkan aku macam buku saku
pada pipi, leher dan tubuhku
kau gores-goreskan aksara doa
“kami bisa” katamu pada jendela
pada jalan layang yang bertelinga
pada mata yang mengamati
pada tetes hujan yang luruh memelangi

malam itu pada kedip lampu perpustakaan
aku memandang dari kejauhan
seribu buku sejak kita pertama bertemu
sudah jauh begini,
apakah kamu tidak lelah melipatku dalam saku?

image

Bunuh Diri dan Karakter Sosial

 

dari artikel lawas ini

Kehidupan menjadi transparan bila diletakkan di depan kematian yang menjadi latar belakangnya (Huntington dan Metcalf, 1979).

Jakarta mengalami peningkatan jumlah kasus bunuh diri hingga 17% dalam 1 tahun terakhir, dari penjelasan KaBid Humas Polda Metro Jaya, minggu lalu. Di Klaten, Lumajang, Bojongsoang, Tanjung Pinang, belum lama juga terjadi usaha bunuh diri yang dilakukan ibu dan melibatkan anak(-anak)nya. Tentu masih banyak yang tidak diliput, karena statistik bunuh diri Indonesia menurut WHO adalah 1,6 hingga 1,8 kejadian pada tiap 100.000 penduduk.

Bunuh diri kerap dikaitkan dengan depresi atau gangguan kesehatan jiwa. Pelayanan kesehatan jiwa yang lebih baik pada skala nasional telah dirintis dengan dimasukkannya RUU Kesehatan Jiwa dalam program DPR.  Tapi bagaimana dengan penyebab gangguan kesehatan jiwa?

Karakter Masyarakat yang Rentan Bunuh Diri

Di banyak tinjauan akademis, bagian masyarakat yang rentan mengalami bunuh diri adalah mereka yang miskin, terasingkan secara sosial, mereka dengan kendala kesehatan, dan usia tua.

Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri banyak terjadi karena tekanan ekonomi atau  sebab lain yang merupakan konsekuensi dari kondisi ekonomi lemah, dan justru pada usia produktif. Patah cinta, merasa dilecehkan, yang pada ruang waktu dan kondisi berbeda seakan remeh, bisa menjadi motif pengambilan solusi pintas dan ekstrim.  

Gallup membandingkan data tingkat relijiusitas dari penelitiannya (2005, 2006) dengan data tingkat bunuh diri WHO, dan menyimpulkan bahwa tingkat bunuh diri suatu negara berhubungan terbalik dengan tingkat relijiusitas. Agama dan aturannya dapat menjadi tujuan hidup dan pengobat rasa putus asa. Ikatan kuat pada kelompok berdasarkan keagamaan juga menjadi penopang individu.

Bahwa angka bunuh diri di Indonesia meningkat, menarik untuk menganalisa bagaimana agama difungsikan oleh masyarakat saat ini. Mempertanyakan nilai apa yang sebenarnya dijunjung masyarakat yang dominan beragama Islam, bila agama tidak lagi dianggap menopang individu.    

Mengenai nilai masyarakat, Durkheim, sosiolog abad 20 disebut menyatakan salah satu jenis bunuh diri yaitu yang bersifat anomik diakibatkan oleh kondisi anomi, yaitu menurunnya norma dalam masyarakat industrialis.

Tafsir ulang Puffer (2009) sebaliknya menegaskan bahwa konsep Durkheim tentang bunuh diri anomik dimulai dari kondisi ekonomi masyarakat. Fluktuasi tajam perekonomian akibat rendahnya regulasi pemerintah membuat kondisi ekonomi masyarakat berubah tanpa bisa diantisipasi individunya, menimbulkan rasa tidak aman, memicu keputusasaan, lalu mendorong tindakan bunuh diri.

Puffer menegaskan bahwa kondisi anomi ala Durkheim mengacu pada kurangnya regulasi ekonomi dan penegakan hukum. Bukan semata tentang perubahan nilai.

Tentang rasa aman, Snellen (2012) menyebutkan eksklusi dari kohesi sosial mendorong orang untuk mencari lingkungan sosial lain yang memberi rasa aman dan nyaman, termasuk kelompok ekstrim pelaku terorisme. Individu terasing bahkan bisa rela melakukan bunuh diri sebagai cara untuk membuktikan kesetiaan pada kelompok penopang barunya.  

Konsekuensi Sosial dari Bunuh Diri

Tindakan bunuh diri adalah fenomena kompleks melibatkan banyak faktor. Faktor paling personal adalah pemahaman pribadi tentang kematian.

Faktor lain adalah tatanan institusional sebagai hal eksternal yang menyehari, termasuk cara pandang keluarga dan masyarakat terhadap kematian dan kehidupan, agama, hukum dan aturannya, hingga wacana media massa.  Bentukan dan norma sosial-kultural mempengaruhi definisi individu atas kematian bagaimana yang wajar dan bisa diterima masyarakat. Juga, persepsi atas kehidupan seperti apa yang dianggap layak oleh masyarakat sekitar.

Dengan demikian harus disadari bahwa tindakan bunuh diri adalah hasil keputusan individu setelah pelaku menimbang bagaimana masyarakat mempengaruhi hidupnya, serta bagaimana ia melihat peran dan posisinya di masyarakat.

Beberapa metode bunuh diri semakin publik dan ekspresif, seperti membakar diri. Tindakan bunuh diri seakan bukan hanya sekadar penyelesaian masalah personal di masa lampau pelaku, tapi dijadikan alat oleh pelaku untuk mengubah cara pandang lingkungan akan suatu hal di ‘masa depan’ pelaku, yaitu setelah tindakan bunuh diri.  

Kejadian bunuh diri mempengaruhi pemahaman individu selain pelaku akan lelakon hidup dan pemaknaan atas juang hidup, yang bisa menguatkan atau menegasi alasan untuk hidup. Karenanya, bunuh diri memiliki pengaruh terhadap masyarakat.

Tindakan serius pemerintah maupun masyarakat sendiri untuk menghadapi fenomena bunuh diri sangat diperlukan, sebelum menjadi tumor yang mengganas dan menyebar.

Pencegahannya adalah dengan memperbaiki kondisi sosial dan relasi yang terjalin hingga tiap anggota masyarakat mengalami rasa aman dan nyaman. Kepastian hukum dapat mengakomodasi perasaan aman, keyakinan akan keadilan, dan terjaganya harapan bahwa tiap individu dapat mengusahakan kehidupan yang layak.

Nyaman tidak selalu berarti perbaikan kondisi ekonomi semata. Namun, dalam budaya konsumeris ketika legitimasi posisi sosial sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi seseorang, maka untuk merasa diterima sebagai bagian masyarakat hampir mutlak diperlukan perekonomian yang kuat dan distribusi kesejahteraan yang adil dan manusiawi.

Ada yang menyebut industri rokok sebagai pembunuh masyarakat karena meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi rokok. Kemiskinan dan ketidakpastian hukum menyebabkan keputusasaan individu yang bisa memicu tindakan bunuh diri. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pembiaran masyarakat dan pemerintah terhadap penyebab kemiskinan dan ketidakpastian hukum bisa juga disebut sebagai pembunuhan.

to outlove me

im made of frailties and vagueness
of doubts and uncertainties
of awkward smile and happy tears
of dreams that mix the past days with days to come
of superstition and logic creation

and yet you outlove me

all this time and still you outlove me

You outlove Me.

pohonjati
8feb2015