Marry Me

saya dan dia sedang berputar-putar di selatan kota dalam mobil lamanya. kelaparan yang sempat terlupakan karena waktu ketemu yang selalu terlalu sebentar rasanya, malam itu dia memutuskan kami mampir saja ke tempat jajanan seadanya.

(tentang tempat itu. tempat jualan penganan yang berragam dan semuanya dengan cita rasa kampung dan gurih berlebihan. kami pernah menyambanginya sebelumnya – ia tau saya suka betul kalau ia mengajak saya ke tempat-tempat unik demikian. saat itu tempat itu adalah salah satunya. tampilannya biasa saja, bangunan semi permanen yang menempel pada rumah sakit kelas atas di bilangan selatan. mungkin setiap tempat memang jadi istimewa kalau ia yang membawa saya mengunjunginya.)

dari jalurnya, mobilnya menepi menyilang. kami parkir di kanan jalan.

sebelum kami keluar, radio melantunkan lagu yang sebelumnya hanya jadi latar belakang obrolan kami, tadinya tidak betul-betul kami dengarkan. irama dan jenis lagunya sama sekali bukan kegemarannya, tapi ia menangkap sepotong liriknya.

tuh, katanya. saya sudah tau kalimat mana yang dimaksudnya. saya berpura-pura sebentar menunggu. penyanyinya mengulang bait yang sama. i think i wanna marry you.

saya bisa merasakan pipi saya menghangat, tersipu dan kehilangan kata cerdas yang harusnya saya lontarkan dalam lagak canda ringan, sekadar menunjukkan saya tidak sebegitunya termehek-mehek apalagi terpesona. ia keluar mobil. saya menenangkan hati yang berdebar sebelum menyusulnya keluar. ia menunggu saya berdiri di sisi depan mobil. setelah saya menjajarinya, kami bersama melangkah ke pangkalan jajanan, bertingkah seperti biasa saja, memesan makanan yang tinggal seadanya, dan saya tidak lagi merona.

malam itu sebtulnya kami telah menikah untuk beberapa waktu lamanya. bahwa ia menangkap lirik menye-menye begitu dan menyorongkannya lagi ke hadapan hati saya, mengharubiru saya. mungkin ia becanda, mungkin ia cuma tidak ingin romantisme kami kadaluarsa. nyatanya, lirik seadanya itu menyentuh hati saya.

touches me still, remembering it, tenderly.

i love you always, #pohonjati.

Mencari Hantu Masa Lalu Saat Makan Siang

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi pada suatu hari dimana saya mendapat kesempatan untuk ngobrol panjang sambil makan siang enak dan banyak dengan seorang editor penerbitan besar.

Mbak editor ini sejak awal perkenalan sudah terkesan ‘asik-asik aja’ dan gak ribet. Baru pada saat ngobrol panjang itu saya dapati bahwa si mbak juga lugas dan jujur. Soal bahwa ia cerdas dan bagaimana pengetahuannya akan buku dan bacaan begiu banyak, saya ngga terlalu salut karena jabatannya memang mensyaratkan itu dan mengisyaratkannya pada siapa yang tau akan posisi dan tempat kerjanya.

Yang saya mau ceritakan di sini adalah bagaimana kelugasan dan kejujuran seseoranglah yang membuat kita bisa banyak belajar. Bukan karena si mbak cerdas aja. Bukan karena ia asik dan friendly aja. Bukan karrna posisi dan jabatannya.

Dan si mbak mengajarkan saya untuk mempertimbangkan apakah saya perlu mencari hantu masa lalu saya. Kalaupun tidak ada, saya perlu mencari sesuatu yang bisa memacu saya.

Mengapa hantu? Apa yang perlu dipacu?

Brawal dr mbak editor nemuin tulisan saya di suatu buku, lalu tertarik menerbitkannya. Cerita-cerita saya pun saya kumpulkan, lalu dibaca oleh si mbak. Dan siang itu adalah pertama kali kami ngebahasnya.

Yang pertama dan langsung disampaikannya adalah, bahwa cerita-cerita saya yg mnurutnya adlh kritik sosial dgn gaya penulisan yg bagus (biasalah pujian dtg duluan… 😋) masih butuh keragaman tema (tangkapan saya adlh tema cerita tentunya). Lalu sebaliknya, ada beberapa cerita yg bernuansa sama sekali berbeda, yg membuat keseluruhan ‘paket’ jadi seperti kabur fokusnya.

(Yg dimaksud mbak editor tentunya adlh cerita2 cinta yg terilhami dari kisah orang2 yg saya temui.. yg emang sy masukkan aja dalam paket saya karena memang begitulah hati dan pikiran saya – ngga melulu soal kritik ngga melulu soal cinta).

Sy beruntung karena mbak editor ini dengan sgala kritiknya ternyata menyukai karya saya. Ia membandingkan tulisan saya dgn penulis perempuan lain (otomatis saja, bukan berarti kami jadul dan mengotak-kotakkan diri dlm apa yg dulu sering disebut org sbg sastra wangi). Beberapa penulis terkenal rupanya bukan favoritnya, karena ringan dan seadanya. Beberapa dianggapnya dibayangi hantu masa lalu, sehingga cerita mereka selalu bgitu dan dibaca seakan sama melulu. Bagus  krn tajam di satu sisi, jadi membosankan di sisi lainnya.

Saya disebutnya tidak punya hantu masa lalu. Tanpa kenal saya sebelumnya, ia menebak;

“Kamu ini masa lalunya pasti bahagia. Mamanya siapin masakan enak, papanya rame. Pulang sekolah diantar jemput. Ngga ada yg ngebully – itu liat di crita kamu ngga ada kan ttg org dibully?”

Lalu, diteruskannya demi mengingat pekerjaan sambilan saya sebagai peneliti dan 2 cerita saya sebelumnya yg saya bocorkan merupakan hasil rekayasa kisah kehidupan orang yg saya temui saat penelitian di banjarmasin dan balikpapan;

“Kamu itu sensitif banget, td aku crita aja kamu trenyuh ampe kyq gitu. Kamu trenyuh, org koq bisa kayaq gitu, gimana rasanya, gitu. Kamu nulis krn kegelisahan. Tapi ya gitu, jdnya, saat nulis yg kamu pikir; ‘orang miskin mana lagi yaa yg aku tulis?’ “

I laughed at her last comment. Mana pula dilakukannya sambil membayangkan tingkah saya: kdua siku bertelekan di meja, kedua tangan bertemu pd ujung2 jari dan saling menepuk2 ringan.. berpikir keras..

Tapi itu sebetulnya bukan laughing matter. Itu serius sekali, masukannya. Dan… betul sekali, bgmn ia bayangkan kegelisahan sy yg kurang menggurat tajam krn seringkali lbh berupa gabungan kemarahan, rasa ktdkberdayaan, pikiran ktdkmampuan mncerna apa yg sbtulnya trjadi.

Pikiran saya majemuk dan kalut sendiri, tertuang dlm tulisan yg warna warni, kurang bergigi. Saya tdk punya hantu masa lalu, sy mngamati dlm sangkar kniscayaan2 dan kemengaliran hidup sy, melihat hantu2 org berlalu. Sy terharu, mngutipnya, tapi duka org tdk lalu terinternalisasi dlm kata.

Mbak editor meminta sy lbh byk lg membaca. Sy memang jujur bilang kalau sy kurang byk membaca – beli buku, sering dan byk. Baca buku, jarang. Dgn membaca, ngga hanya mendengarkan cerita org dan terlara-lara sendiri saat merasakannya, sy bisa belajar bagaimana org bermain dgn kata, dan mnggunakan utk menguatkan rasa.

Saya berterimakasih sekali pd mbak editor ini. Belakangan ia cerita tentang masa kecilnya – yg membuat sy tertawa skaligus ngerasa nyeri di dada. Masa lalu kmi memang sgt berbeda. Mungkin itu pula sebabnya ia bisa menebak dgn begitu tepat ttg masa lalu saya. Kalau lbh lama lg wktu yg kami punya utk ngobrol, sy hampir yakin pasti mbak editor bisa menebak koleksi sanrio sy saat kecil, sgala macam les yg tdk pernah sy tuntaskan, hari2 sekolah yg sy pakai buat bolos sekolah dan jalan2 sm orgtua sy atau buat tidur2ran aja di rmh krn sy malas bangun pagi dan mama ijinkan sy dr keharusan masuk sekolah.

Sy tdk punya hantu masa lalu. Tdk berarti agar punya tulisan bagus dan karya dgn kualitas yg konsisten hal itu jd perlu. Tp saya butuh sesuatu yg membuat sy terpacu. Sesuatu yg membuat sy merangkai kata tdk hanya utk menyampaikan cerita, tapi yg juga bisa menggelorakan rasa.

🐰 Mengantar Raj Tidur 💔

Beberapa saat lalu, saat raj mendadak sakit keras dan lemas, dokter hewan kami sudah pesimis dan minta saya sabar dan pasrah. Usia raj 4 tahun saat itu.

image

Saya bersikeras dan sungguh-sungguh memohon pd Pencipta Alam agar raj diberi kesembuhan, dan saya diberi jalan dan kesabaran untuk merawatnya. Beberapa malam saya bangun setiap 2 jam, menyuapi raj dengan vitamin dan asupan lain, mengisi ulang warmer penghangat badan, mengganti alas tidur dan selimutnya krn raj diare hebat juga, membalik-balikkan arah tidurnya agar mengurangi pegal dan discomfortnya.

image

Pencipta Alam masih sayang pd saya, tau kalau saya sungguh-sungguh sayang pada raj, dan raj disembuhkan.

Pada hari ke5 raj sudah bisa berdiri lagi. Setelah tepat seminggu raj sudah lincah lagi.

image

Raj punya tempat spesial di hati karena di antara yang lain raj paling jual mahal, bandel, dan jarang mau disayang-sayang. Bener-bener bikin penasaran. Tapi kalau lagi keluar manjanya, raj justru mendului mendatangi saya untuk sekadar mengendus2 kaki saya.

Karena rumah sedang dibenahi dan kami tinggal dengan papa sekeluarga lagi, raj dan keluarganya saya titipkan ke petshop langganan kami. Papa ngga suka teman-teman berbulu saya karena mengotori halaman dan rumah. Saya paham karena sejak kecil meski saya selalu punya teman hewan papa memang selalu ngga sepenuhnya setuju. Raj hanya datang mengunjungi saya sesekali, lalu sorenya dibawa pergi lagi.

Waktu tadi ditelpon staf petshop dan dikabari bajwa raj mendadak kejang-kejang, hati saya seperti langsung tenggelam, sperti mimpi saya semalam. Dua hari lalu saya tiba2 kangen sekali sama raj dan ingin minta staf petshop untuk antarkan raj ke rumah papa. Tapi karena papa sedang sakit, saya ngga berani untuk melakukan sesuatu yg jelas-jelas ngga disuka papa. Karenanya saya urung minta raj didatangkan sejenak.

Telepon pak min staf petshop buat saya seperti sudah final. Rasanya raj ngga bisa diselamatkan. Yang sedih dan bikin devastated adalah menurut pak min sampai siang tadi raj masih baik2 saja.

Waktu raj didatangkan ke rumah, tubuh raj masih hangat, meski sudah kaku. Bulunya bersih sekali. Saya menangis cukup lama, tergores hati saya membayangkan raj sempat ngerasa kesakitan sebelum ditinggalkan nyawanya. Mama yang paling mengerti bagaimana saya kepada teman-teman peliharaan saya memberikan secarik kain putih untuk menyelimuti raj dalam pemakamannya.

image

Raj sekarang sudah dimakamkan, dibungkus kain putih bersih dari mama. Hati saya masih tenggelam rasanya dan belum-belum sudah kangen raj. Saya bilang pada raj yang sudah kaku untuk tidur saja yang tenang karena raj sudah ngga akan kesakitan lagi.

Raj spertinya mengerti, wajahnya masih seperti sedang tidur saja. Sayang sekali saya sama raj.

💗 Pada Perpustakaan 💟

sore itu
aku tertidur pada tumpukan buku
kepalaku layu pada lipatan tangan yang menopang dagu
kamu datang mengecup keningku
dan mataku yang sayu
“ayo, kita kenalan dulu”

tiba adzan aku eja namamu
lirih ragu seperti terlalu lama menunggu
sementara kamu yakin kita tepat waktu
ya betul waktu pernah lalui kita
tapi kali ini kamu keras kepala
“ayo, begini caranya bercinta”

aku bergelung pada halaman buku
kamu mencangklong ranselmu dan
selipkan aku macam buku saku
pada pipi, leher dan tubuhku
kau gores-goreskan aksara doa
“kami bisa” katamu pada jendela
pada jalan layang yang bertelinga
pada mata yang mengamati
pada tetes hujan yang luruh memelangi

malam itu pada kedip lampu perpustakaan
aku memandang dari kejauhan
seribu buku sejak kita pertama bertemu
sudah jauh begini,
apakah kamu tidak lelah melipatku dalam saku?

image

Bunuh Diri dan Karakter Sosial

 

dari artikel lawas ini

Kehidupan menjadi transparan bila diletakkan di depan kematian yang menjadi latar belakangnya (Huntington dan Metcalf, 1979).

Jakarta mengalami peningkatan jumlah kasus bunuh diri hingga 17% dalam 1 tahun terakhir, dari penjelasan KaBid Humas Polda Metro Jaya, minggu lalu. Di Klaten, Lumajang, Bojongsoang, Tanjung Pinang, belum lama juga terjadi usaha bunuh diri yang dilakukan ibu dan melibatkan anak(-anak)nya. Tentu masih banyak yang tidak diliput, karena statistik bunuh diri Indonesia menurut WHO adalah 1,6 hingga 1,8 kejadian pada tiap 100.000 penduduk.

Bunuh diri kerap dikaitkan dengan depresi atau gangguan kesehatan jiwa. Pelayanan kesehatan jiwa yang lebih baik pada skala nasional telah dirintis dengan dimasukkannya RUU Kesehatan Jiwa dalam program DPR.  Tapi bagaimana dengan penyebab gangguan kesehatan jiwa?

Karakter Masyarakat yang Rentan Bunuh Diri

Di banyak tinjauan akademis, bagian masyarakat yang rentan mengalami bunuh diri adalah mereka yang miskin, terasingkan secara sosial, mereka dengan kendala kesehatan, dan usia tua.

Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri banyak terjadi karena tekanan ekonomi atau  sebab lain yang merupakan konsekuensi dari kondisi ekonomi lemah, dan justru pada usia produktif. Patah cinta, merasa dilecehkan, yang pada ruang waktu dan kondisi berbeda seakan remeh, bisa menjadi motif pengambilan solusi pintas dan ekstrim.  

Gallup membandingkan data tingkat relijiusitas dari penelitiannya (2005, 2006) dengan data tingkat bunuh diri WHO, dan menyimpulkan bahwa tingkat bunuh diri suatu negara berhubungan terbalik dengan tingkat relijiusitas. Agama dan aturannya dapat menjadi tujuan hidup dan pengobat rasa putus asa. Ikatan kuat pada kelompok berdasarkan keagamaan juga menjadi penopang individu.

Bahwa angka bunuh diri di Indonesia meningkat, menarik untuk menganalisa bagaimana agama difungsikan oleh masyarakat saat ini. Mempertanyakan nilai apa yang sebenarnya dijunjung masyarakat yang dominan beragama Islam, bila agama tidak lagi dianggap menopang individu.    

Mengenai nilai masyarakat, Durkheim, sosiolog abad 20 disebut menyatakan salah satu jenis bunuh diri yaitu yang bersifat anomik diakibatkan oleh kondisi anomi, yaitu menurunnya norma dalam masyarakat industrialis.

Tafsir ulang Puffer (2009) sebaliknya menegaskan bahwa konsep Durkheim tentang bunuh diri anomik dimulai dari kondisi ekonomi masyarakat. Fluktuasi tajam perekonomian akibat rendahnya regulasi pemerintah membuat kondisi ekonomi masyarakat berubah tanpa bisa diantisipasi individunya, menimbulkan rasa tidak aman, memicu keputusasaan, lalu mendorong tindakan bunuh diri.

Puffer menegaskan bahwa kondisi anomi ala Durkheim mengacu pada kurangnya regulasi ekonomi dan penegakan hukum. Bukan semata tentang perubahan nilai.

Tentang rasa aman, Snellen (2012) menyebutkan eksklusi dari kohesi sosial mendorong orang untuk mencari lingkungan sosial lain yang memberi rasa aman dan nyaman, termasuk kelompok ekstrim pelaku terorisme. Individu terasing bahkan bisa rela melakukan bunuh diri sebagai cara untuk membuktikan kesetiaan pada kelompok penopang barunya.  

Konsekuensi Sosial dari Bunuh Diri

Tindakan bunuh diri adalah fenomena kompleks melibatkan banyak faktor. Faktor paling personal adalah pemahaman pribadi tentang kematian.

Faktor lain adalah tatanan institusional sebagai hal eksternal yang menyehari, termasuk cara pandang keluarga dan masyarakat terhadap kematian dan kehidupan, agama, hukum dan aturannya, hingga wacana media massa.  Bentukan dan norma sosial-kultural mempengaruhi definisi individu atas kematian bagaimana yang wajar dan bisa diterima masyarakat. Juga, persepsi atas kehidupan seperti apa yang dianggap layak oleh masyarakat sekitar.

Dengan demikian harus disadari bahwa tindakan bunuh diri adalah hasil keputusan individu setelah pelaku menimbang bagaimana masyarakat mempengaruhi hidupnya, serta bagaimana ia melihat peran dan posisinya di masyarakat.

Beberapa metode bunuh diri semakin publik dan ekspresif, seperti membakar diri. Tindakan bunuh diri seakan bukan hanya sekadar penyelesaian masalah personal di masa lampau pelaku, tapi dijadikan alat oleh pelaku untuk mengubah cara pandang lingkungan akan suatu hal di ‘masa depan’ pelaku, yaitu setelah tindakan bunuh diri.  

Kejadian bunuh diri mempengaruhi pemahaman individu selain pelaku akan lelakon hidup dan pemaknaan atas juang hidup, yang bisa menguatkan atau menegasi alasan untuk hidup. Karenanya, bunuh diri memiliki pengaruh terhadap masyarakat.

Tindakan serius pemerintah maupun masyarakat sendiri untuk menghadapi fenomena bunuh diri sangat diperlukan, sebelum menjadi tumor yang mengganas dan menyebar.

Pencegahannya adalah dengan memperbaiki kondisi sosial dan relasi yang terjalin hingga tiap anggota masyarakat mengalami rasa aman dan nyaman. Kepastian hukum dapat mengakomodasi perasaan aman, keyakinan akan keadilan, dan terjaganya harapan bahwa tiap individu dapat mengusahakan kehidupan yang layak.

Nyaman tidak selalu berarti perbaikan kondisi ekonomi semata. Namun, dalam budaya konsumeris ketika legitimasi posisi sosial sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi seseorang, maka untuk merasa diterima sebagai bagian masyarakat hampir mutlak diperlukan perekonomian yang kuat dan distribusi kesejahteraan yang adil dan manusiawi.

Ada yang menyebut industri rokok sebagai pembunuh masyarakat karena meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi rokok. Kemiskinan dan ketidakpastian hukum menyebabkan keputusasaan individu yang bisa memicu tindakan bunuh diri. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pembiaran masyarakat dan pemerintah terhadap penyebab kemiskinan dan ketidakpastian hukum bisa juga disebut sebagai pembunuhan.

to outlove me

im made of frailties and vagueness
of doubts and uncertainties
of awkward smile and happy tears
of dreams that mix the past days with days to come
of superstition and logic creation

and yet you outlove me

all this time and still you outlove me

You outlove Me.

pohonjati
8feb2015

one morning in hasnah’s life

seorang teman mengirimkan link ini ..

sudah lama sekali waktu berlalu sejak itu, rupanya. 

Hasnah is a simple woman with a seemingly simple life to live. In the morning she goes to work as a wash lady for three households that are comparatively better-off than their mixed-class neighbors. She goes home in the afternoon and does her home chores, cooks a tiny bit of food bought from a nearby traditional market (she never buys it from roaming peddlers as prices are more expensive) and then waits for her husband to come home. She wants to get some more work for more money. It is just that her weak body never allows her to do much physical activity. The activities never vary from day to day – except for some unlikely day, like today.

As usual Hasnah gets up at dawn, boils just enough water for her husband’s morning tea. Several chunks of fried cassava she bought last night from a street hawker are steamed for his breakfast. Nothing for her in the morning – as since childhood her stomach has been used to being empty until noon. She washes herself with water drawn from the well last night and filled in the plastic bucket, always caring not to waste an unnecessary amount of water, then carries out her morning prayers.

She prays very quickly and ritualistically, reciting the verses known by heart, the meanings of which are mostly not understood. When she finishes the rite in a sitting position Hasnah rises quickly again. No need for a personal prayer where people usually send their personal wishes to God. Praying is nothing personal for Hasnah. It is something obligatory, if not habitual.

The water boils and Hasnah prepares tea with no sugar. She knows exactly how many tea leaves she should use through her habit of preparing and by taking to heart her husband’s yelling and swearing whenever he thinks the tea is too dark or too light.

She prepares a towel for her husband, a well-worn and discolored one. She always takes a bath after her husband, as they only have one towel and she wants it perfectly dry for her husband’s use. Unlike herself, who always takes care not to use water excessively, her husband likes to use abundant water and splashes it all around their unadorned outdoor bathroom walled by corrugated iron sheets. His habit leaves her with two consequences: a very wet towel and an empty bucket for her to refill.

Next, Hasnah gets her broom and sweeps the earthen floor. She watches from outside their bedroom, separated only from the other space in the house by a ragged curtain already drawn to one side. Her husband wakes up, first stretching his darkened and well-built body from years as a physical laborer. Lately, he often complains about how their mattress had become so thin it gives him a painful back and how there are too many bed bugs that give him skin rashes. She is very quiet while sweeping the floor, anticipating his increasingly frequent blaspheming of the day. But no, he is also quiet. Hasnah feels uneasiness creep in her heart.

She hands him the towel and this time he does not snatch it with aimless anger as usual, but takes it with obvious ignorance. He walks slowly to the back door as if unwillingly. Hasnah’s gaze follows his trail.

When he finishes bathing he does not come back in right away, some moments pass from the second Hasnah hears the bathroom door open to the second he steps in. After putting on his clothes in their bedroom he takes a seat on one of the two wooden chairs facing one another, separated only be the only table in the house in their dining area. From the spot where she stands sweeping Hasnah secretly steals a glance at his face, then immediately turns her back on him. She is mentally judging that unusual disgusted look on his face thrown at the steaming cassava on an old aluminum plate.

“”You don’t have to go to work today,””

Hasnah freezes upon hearing him. A hot flush crawls down her back.

“”You help me pack, you hear me? I move in with her tonight, you’re listening?””

She slowly nods, but realizing how recently he never looks at her when speaking to her Hasnah replies softly, “”Yes””.

“”So it’s settled then. I’ll give you money for this week, on Tuesdays I sleep here and I’ll bring you money each time. You don’t have to work, you hear me? You’re so skinny you make me feel sick just by looking at you. You rest, you understand?””

“”For now, I’ll work only for Mrs. Situmorang. I promised her to work for her at least until Lebaran, (the Muslim post-fasting holiday). Then I can quit,””

“”Whatever else, you go to the hospital again and you get cures for your womb. We’ll have enough money.””

“”Is she with a child?””

Widow Tayem is about ten years older than the 26-year-old Hasnah and is not half as pretty. But Tayem has flirtatious giggles and a voluptuous body. A three-time divorcee with five kids, among whom only the youngest lives with her, she is a well-paid house-to-house masseuse for rich families in an exclusive and detached real estate near their locality. Her personally owned brick-walled and tile-floored house is three-houses away from Hasnah’s rented house.

“”You’ll give me a baby too, you hear me?”” His voice gives away a slight quiver.

So Hasnah knows it must have pained him too, this man she is married to for almost ten years now, to yield to this arrangement.

“”A slight change, you know? We’ll be fine.””

Her husband stands up to go outside too hurriedly that he almost makes his chair stumble. Tea and breakfast are untouched. Hasnah rests the broom on the bamboo-cane wall, careful not to let it fall, walks to their bedroom, packs his things, leaves only one shirt and one pair of underwear in the box placed under their bed.

Hasnah smooths one of his shirts, her eyes shed tears she does not intend to hold back. It’s going to be all right, she talks to herself in her head. Tomorrow is going to be a new day, with slight changes as her husband said. She will work for one household only. She does not have to prepare tea or breakfast or the towel for her husband. She does not have to wait for him in the evening.

But those are the only changes, she realizes. He is right. Everything else will remain the same. She can live her normal life as usual. And maybe now with more money from Tayem to consult her physical problems with the doctors at the hospital, she will get better and eventually bear him a child whom they have been waiting for almost ten years now. ***

• kerikil-kerikil kai •

Cuaca semakin dingin.

Sepanjang bulan kota ini jadi makin kurang ramah. Cuaca di sini memang seperti hati seorang perempuan – sering tidak menentu. Tak heran dijuluki sebagai kota dengan empat musim dalam satu hari.

Socha sungguh kedinginan. Tambahan lagi, ada perkara di dalam hati. Betapa butuh ia akan kehangatan saat risau begini.

Salah seorang bibinya dari tanah kelahirannya mengirimkan pesan pendek yang diterima Socha melalui telepon-pintarnya di sini, di benua lain ini.

Kai jatuh sakit. Socha diminta pulang.

Di sinilah ia kini. Saat gundah begini, Socha memilih ke kedai tempatnya biasa menyendiri. Duduk di beranda, ia selalu jadi merasa dekat dengan laut di kejauhan. Jarak dari kampus Clayton yang harus ditempuh rasanya sepadan. Berada di St Kilda entah bagaimana mendekatkannya dengan laut di ingatan, meski karakter ombak St Kilda berbeda dari laut di pantai-pantai di kota kelahiran yang lebih tenang. Kota kelahirannya terletak menjorok ke dalam pulau, dikelilingi banyak sungai. Tidak memiliki pantai dengan ombak yang bergulung-gulung seperti kota pinggir laut pada umumnya.

Belum juga minuman pesanannya datang, LED telepon genggam berkedip lagi.

–Kai minta keranjang batu dikeluarkan. Kami sudah bersihkan batu-batu kerikilnya.–

Hati Socha melemah saat mengingat ihwal batu-batu kerikil itu. Mengingat tiap saat Kai duduk di bangku rotan panjang di depan rumah panggung mereka, dan ia yang usai mandi sore akan mendatangi Kai untuk dipangku. Kai akan bercerita bermacam hal. Suatu senja, batu-batu kerikil menjadi salah satu dari cerita Kai.

‘Kau ambillah ini batu.’ kata Kai, badannya sedikit melengkung ke sisi, tangannya meraih sebutir batu di dekat kaki bangku.

‘Lemparkan ke depanmu, Galuh[1]. Seraya batinmu panggil ilah-mu. Sebut, tiada tuhan selain ilah-mu. Ambil lagi batu lain. Panggil ilah-mu lagi. Begitu bagusnya caramu mengisi waktu.’

‘Nanti,’ lanjut Kai, ‘gunungan batu itu bisa jadi saksi seberapa tinggi imanmu. Saat kau mati, biar batu-batu ini menutup tanah penguburmu. Niscaya, semua panggilmu yang melekat pada batu, di hari kematianmu akan terbang mencari tuhanmu.’

Manalah Socha kecil peduli pada kisah tentang penguburan. Atau panggilan yang terbang ke awan. Dianggapnya permainan, berusaha ditepatkannya lemparan agar batu mendarat di titik yang berdekatan dengan batu sebelumnya. Beberapa hari dilakukannya, saat jelang petang bercengkerama di pangkuan Kai. Melempar batu memang menyenangkan. Tapi keasikannya tidak berumur panjang.

Socha bosan segera saja. Ia lebih suka main tetris di gameboy yang dibelikan ibu saat melancong ke Malaysia. Tumpukan tetris lebih mengharuskan ia curahkan konsentrasinya.

Apalagi sejak ibu tidak kembali.

Socha kecil tadinya tidak mengerti kenapa ibu tidak kembali. Kenapa ibu memilih menetap di Sabah. Kata orang-orang tua, berlibur ke sana lebih hemat daripada terbang atau berlayar ke ibukota di tanah Jawa. Apa itu sebab ibu enggan kembali?

Hanya setelah dewasa Socha mengerti bahwa ibu pergi bukan karena keranjingan melancong. Bukan itu, sampai harus menikah lagi dengan laki-laki dari tempat yang disebut negri di bawah bayu.

Apa yang Mama rasakan saat itu? Saat bertemu dengan calon suami baru, dari negri di bawah bayu? Kata orang, Mama menukar kehidupan! Demikian Socha bertanya, saat remaja, dan sudah elok baginya untuk bertemu lagi dengan ibu.

Ibu terlihat malu. Ada juga tampak sekilas jengah dan rasa bersalah. Tapi, semburat kesumba macam sipu remaja di pipi ibu lebih mengemuka.

Socha tahu saat itu, bahwa ibunya betulan jatuh cinta.

Maka saat kembali ia ke kampungnya di Banjar, di antara para bibi yang tidak bosan ingatkan ia akan dosa ibu, ia tahu setidaknya Mama lebih bahagia dari mereka. Perempuan-perempuan dalam keluarganya, yang pandai memasak-padukan cengkeh dan jahe dan kayu manis jadi beragam penganan, belum tentu pernah memadu kasih sehebat yang dirasakan ibu. Para bibi yang gemar bersolek di kala senggang mereka, tak ada yang tampak sebahagia dan secantik ibu saat ia tanya mengapa tinggalkan ayah untuk hidup bersama laki-laki dari negeri bayu.

Kai, sebaliknya, tidak pernah mengutuk atau berbicara buruk tentang ibu.

Ibumu memang berbibir manis, desis salah seorang bibi. Sudah ditinggalkannya ayahmu, malah pula ia dibela ayah mertuanya, ketus bibi yang lain. Dengan modal tangis dan paras manis, ibumu buat Kai berpihak pada perempuan yang cuma mantu. Seakan Kai tidak takut karma!

Kai memang tidak percaya karma. Tidak percaya bahwa dosa adalah kebiasaan atau warisan. Kalau ya, Kai tidak mungkin beri ijin ia pergi belajar jauh seperti begini. Tidak sekadar mengarungi angkasa ke ibukota, Kai restui kepergiannya ke lain benua.

Kemurkaan ayah akan rencananya meninggalkan kampung halaman ditepis teguran dingin Kai.

‘Orang akan kembali, kalau tidak perlu pergi untuk mencari yang hakiki. Sekolah cuma caranya mengenal kehidupan. Socha bukan sedang menukar kehidupan.’

Ingin juga sebetulnya Socha melihat ayah sungguhan melarangnya. Melarang karena cinta, bukan karena paranoia. Berharap setidaknya dengan begitu ia tahu ayah memikirkannya. Tapi ayah malah menjauh lagi dari kehidupannya. Kembali ditelan kesibukan pekerjaan sebagai pengusaha, ayah bolak balik pergi. Socha kembali hanya bisa berpegangan pada Kai.

Telepon genggam bergetar. Kali ini, panggilan tak bersuara. Melirik nama yang muncul di layar, kenangan Socha yang tadi terhimpun kembali terserak.

Pesan pendek menyusul masuk setelah panggilan telepon terdiam dalam jeda.

Got ur text about ur Kai. Im so sorry to hear it. U ok? If theres anything at all I can do…–[2]

Lelaki pengirim pesan barusan, bermata hijau kebiruan dan lahir serta besar di negara ini. Sudah beberapa bulan Socha dalam kebimbangan karenanya. Diawali pertemanan, berangsur jadi kedekatan, membuat Socha mereka-reka apakah dunia dan tuhan mereka yang sama tapi begitu berlainan bisa dipersatukan.

Saat Kai sakit seperti ini, betapa justru Socha membutuhkan Kai! Kai yang lapang menerima perubahan dan perbedaan. Batu kerikil yang telah dibersihkan seperti terbang menjemputnya di St Kilda.

Panggilan telepon berupa geletar pada genggaman datang lagi. Wajah Kai yang tenang terbayang, seakan menguatkan. Socha menyentuh tombol terima panggilan.

“Hi, Kyle. What do you think of seeing my Kai and visiting Banjar? Im sure he’d love to meet you…”[3]

Jawaban yang didengar hadirkan senyum di bibir dan hangat haru di dada Socha. Socha tahu, ini adalah awal. Ia tidak sedang menukar kehidupan. Seperti ibu dan Kai, ia hanya pemberani yang tidak gentar tangani perubahan dan perbedaan.

Selesai.

[1] Sebutan untuk anak perempuan yang disayang dan ditinggikan

[2] —Aku sudah baca SMSmu tentang Kai. Turut prihatin untuk itu. Kamu baik-baik sajakah?Kalau ada yang bisa kubantu..-

[3] “Hai, Kyle. Apa pendapatmu tentang pergi menemui Kai dan mengunjungi Banjar? Aku yakin Kai akan sangat senang bila bisa bertemu kamu.