⏰ Demi Waktu ⏰

Ini pengamatan sementara. Dengan metode pengamatan ala kadarnya. Tentang mengapa orang sekarang ini seperti begitu lekat dengan gawai komunikasinya.

Begini. Menurut saya rasanya ini gara-gara hubungan kita yang makin buruk dengan sang waktu. Waktu berlalu, belakangan ini, seperti makin tidak peduli akan kita yang tergopoh-gopoh mengejarnya. Dan sebaliknya kita, menjejalkan begitu banyak perkara untuk diselesaikan dalam satu titik atau kurun waktu, semacam tidak peduli betapa sang waktu punya cara dan pratata sendiri untuk memulai dan mengusaikan segala sesuatu.

Waktu, alih-alih sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan, seringkali justru menjadi sekadar kendala. Hari ini, saya dibuat menunggu oleh beberapa teman yang janjian untuk ketemuan. Enggan terus menerus menengok telepon genggam, saya bersegera tiba di tempat tujuan. Setau saya, terhadap janji kita hanya bisa satu: memenuhinya. Maka hadir tepat waktu saja yang jadi tujuan saya. Setiba di tujuan, lagi-lagi saya yang hadir pertama. Kembali saya dapati, di sekian menit terakhir beberapa kawan menyatakan akan terlambat datang. Pimir saya, ah ini salah saya, jadinya. Bila saya ingin berdamai dengan apa yang dihadirkan wktu, saya harusnya selalu konsultasi pada perangkat genggam saya. Karena, di tempat-tempat lain dimana teman-teman saya berada, waktu bagi mereka tidak rampak derapnya sebagaimana waktu buat saya.

Sesore ini juga, masih juga gawai tidak lepas dari tangan. Mengisi blog ini dengan tulisan ini, cuma salah satunya. Lainnya, saya didera bosan ngga tau apa yang harus dilakukan, di tengah jalan yang disesaki kendaraan begini. Waktu berjejalan di dalam ruang berpendingin dalam kendaraan, mendesak minta saya habiskan. Jalanan yang saya lewati sedang diperbaiki, ini proyek pemerintah dalam membuat alternatif moda transportasi dalam kota. Proyek yang katanya molor dari perencanaan. Waktu nampaknya bukan sesuatu yang dianggap kekurangan, oleh pihak yang berwenang.

Ketidakterlepasan, ketergantungan kita pada perangkat-perangkat ini, bukanlah semata karena perangkat elektronik adalah alat kita berkomunikasi. Gawai-gawai ini, adalah cara kita menaklukkan waktu. Memerangi waktu. Membujuk dan merayu waktu, agar ia cukupkan kita akan apa yang kita minta.

Meski mungkin kita harus menunggu begitu lama.

Ucapan Selamat

Pagi ini, papa mama dan saya berkumpul di ruang makan untuk melakukan rutinitas kami sebagai tipikal keluarga sehat sejahtera Indonesia lainnya: ngecheck media pesan singkat di gawai kami masing-masing.

Kami sama-sama mengirimkan ucapan selamat Natal pada keluarga dan kerabat, teman dan rekan kami. Papa yang memang handal dengan wordcraft merangkaikan kata yang tinggal diteruskan ke ma, lalu ma akan menyalin-rekat dengan sedikit suntingan, menyesuaikannya untuk dikirimkan ke kelompok-kelompok gaulnya.

Pa yang pertama bilang, “hehehe ini aku dibalas dengan ucapan Selamat Hari Maulid Nabi.. “.

Saya dapati, saya juga.

Ini hal baru, rasanya. Seingat saya, antara kami yang sesama muslim, belum pernah sebelumnya kami saling ucapkan selamat merayakan hari ulang tahun Rasul kami yang kami muliakan selalu itu.

Dalam pelaksanaannya, Maulid Nabi Besar kami dirayakan dalam keriaan dan rasa syukur yang sifatnya komunal. Unsur budaya lokal pun termasuk kental. Seingat saya, masih juga ada perbincangan bagaimana tanggal yang ditetapkan untuk peringatan kelahiran nabi juga masih diragukan ketepatannya secara historis (ada yang menyatakan tanggal 9, sementara sebagian besar menyatakan tanggal 12 Rabiul Awal). Lalu ada pertimbangan lain (dan perdebatan tentunya) secara syariat, oleh sementara saudara kami yang menyatakan bahwa merayakan hari lahir rasul kami adalah tindakan yang kurang tepat.

Itu mungkin sebabnya, belum pernah juga ada ucapan “selamat hari Maulid Nabi” oleh teman-teman saya yang keIslamannya lebih kental dan mendalam dari saya (sebagaimana ditandakan dari kerapnya dan ya-Allah-panjang-niannya kiriman pesan mereka yang bernuansa keagamaan dan keimanan, nelum tentu dari isi hati, pikiran dan tindakan karena saya tidak sering juga ketemu langsung dengan teman-teman).

Saya yang mudah mellow jadi terharu, diselamati begitu. Dari saudara-saudara yang tidak seiman, pula. Keharuan saya berawal pada dugaan sederhana; adakah teman-teman saya ingin menunjukkan empati yang sama, sebagaimana yang mereka terima?

Terutama mereka yang tidak awam lagi dengan percakapan dan debat di dunia maya (biasanya oleh mereka yang beraninya cuma debat di dunia maya), tentulah terpapar pada menu musiman tentang perdebatan untuk mengucapkan selamat hari raya bagi agama lain oleh sementara umat muslim. Mungkin karenanya, bagi mereka, kami yang nekad mengucapkan selamat adalah yang sudah berani menerima resiko tertentu, baik sanksi sosial atau yang terkait dengan surga-neraka.

Yang juga membuat haru adalah pikiran sempit saya yang menduga, jangan-jangan ini karena saudara-saudara kami yang tidak seiman ini sadar diri bahwa mereka adalah minoritas, sehingga mengucapkan selamat untuk suatu peringatan  agama yang dianut kaum mayoritas adalah hal yang sudah sepantasnya.

(Ada juga terlintas di kepala, untuk becanda pada teman-teman saya yang seiman, bilang: ‘kita niy ikut-ikutan aja, ya. Nggak pernah sebelumnya kita ucapkan selamat hari Maulid ke sesama kita, sekarang karena nabi orang dirayakan kelahirannya, kita pun ikutan selamet-selametan.’ Tapi nggak berani lah saya becanda demikian. Nanti dibilang kebablasan.)

Apapun, saya terharu untuk nuansa empati dan kebersamaan yang meruak dari ucapan-ucapan di media sosial maupun kanal obrolan daring. Ini bukan salah atau benar, biasa atau tidak biasa, karena empati atau karena berhati-hati. Pada akhirnya, memang manusia dinilai dari niatnya. Tapi hari begini, tindakan yang mulia yang baik akibatnya untuk semua, yang adem dan membuat kemanusiaan lebih terasa (atau paling tidak, kembali ada) sudah layak disebut luar biasa.

Pernikahan, Perempuan, Pilihan

Pernah termuat di sini

 

(Tulisan ini tadinya direncanakan untuk Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret. Tapi telat karena kehilangan mood di tengah penulisannya. Biasa, perempuan ada yang suka moody, kan? :p )

Sahabat perempuan saya akan menikah. Waktu mendengar kabar itu dari si calon mempelai perempuan sendiri lewat pesan singkat, ingin rasanya saya melompat-lompat kegirangan. Saya tahu betapa pentingnya arti pernikahan buat dia.

Kami berdua sangat cocok berteman karena sama-sama selebor, kadang ngga bisa jaim, serta suka judes.

Yang tidak banyak orang tahu, adalah bagaimana kami berdua sama-sama menyadari bagaimana tipisnya hati kami. Kami sering saling curhat tentang mimpi indah kehidupan berpasangan dan pernikahan. Sering blingsatan sendiri kalau kangen dengan pasangan. Suka layu karena cemburu. Kata orang, sifat seperti itu ‘sangat perempuan’.

 

Perempuan dan Pernikahan

Keberadaan perempuan dalam pernikahan, menurut Pat Mayes (“Gender”, 1986), adalah akibat sosialisasi atas ‘pekerjaan’ sebagai ibu rumahtangga dan posisi ini sejak lahir. Bukan merupakan murni kebutuhan si perempuan. Ada kemungkinan bahwa ‘keinginan’ untuk menikah itu bersifat ilusif, sementara tujuan akhir sebenarnya menurut masyarakat adalah (sekadar) fungsi reproduksi.

Penetapan fungsi perempuan dalam keluarga sebagai pelaksana harian operasional keluarga juga di banyak budaya bersifat determinatif. Sifatnya exclusively feminine, sebagaimana diteorikan oleh Ann Oakley (“Housewife”, 1974), yang menemukan bahwa 3 dari 4 perempuan pekerja juga merupakan iburumahtangga atau pelaksana utama kegiatan berumahtangga, sebagaimana 9 dari 10 perempuan yang tidak bekerja.

Di banyak budaya di Indonesia, hal ini justru mendapat penekanan yang lebih, karena budaya patriarki mendominasi kehidupan masyarakatnya hingga saat ini. Female domesticity menjadi hal yang dianggap layak bahkan ideal. Selain itu, nilai sosial budaya umumnya juga masih menempatkan perempuan dalam posisi sub-ordinat. Di beberapa profil dan bagian masyarakat, konsep ini mungkin sudah berkurang pengaruhnya, sebagaimana tampak misalnya dalam iklan-iklan produk rumahtangga di media elektronik yang menampilkan ibu bekerja dan berkarir. Tapi di mayoritas penduduk terutama di kalangan ekonomi bawah, domestikasi perempuan masih menjadi tema utama.

Konsepsi sahabat saya (dan saya) tentang pernikahan, bisa saja baur antara apa yang disosialisasikan pada kami, dan apa yang benar-benar diinginkan. Menyebut ‘benar-benar diinginkan’ pun sebetulnya tetap harus menghitung bagaimana keinginan kami terbentuk oleh hal lain. Seperti orangtuanya yang sebelum ini sudah beberapa kali ‘bertanya iseng’: “jadi, kapan nyusul sepupumu nikahan?”.

 

Perempuan dan Pilihan

Salah satu jawaban paling seksi dari pasangan, buat saya, adalah ‘gampang, itu bisa diatur’. Bahkan sebelum diaktulisasikan, jawaban yang diberikan saat saya datang padanya dengan masalah dan permintaan itu sudah terdengar seperti sebuah solusi. Bagi saya, mencerminkan bagaimana si pasangan punya pengetahuan dan pengalaman yang baik, yang bisa menyelesaikan masalah saya. Ia punya resource dan kemampuan yang melebihi saya.

Dan bukan hanya itu. Dengan jawaban itu, segera terbayang juga betapa hands-on-nya sang pasangan dengan masalah saya. Betapa terlibat dan mau melibatkan diri. Sementara saya tau, kesibukannya kadang membuat ia seperti tenggelam digulung waktu.

Soal keterlibatan ini – hal yang seharusnya imbal-balik sederhana dari hubungan laki-laki dengan perempuannya, jadi terkesan luar biasa. Sebabnya, justru gara-gara saya keburu meletakkan dia di posisi yang lebih dari saya. Lebih sibuk, lebih banyak tanggung jawab. Lebih pintar, lebih dewasa. Karenanya, sedikit saja dapat perhatian dari dia, saya sudah kegirangan luar biasa.

Tapi itu pilihan saya.

Saya memilih untuk melihatnya seperti itu. Menyukai dia di atas saya (don’t take it literally, please). Bukan sebagai dominasi, tapi mungkin sekedar romantisasi peran. Pilihan apolitis. Yang bisa saja salah, tapi menurut saya sekadar naluriah.

Teman saya nanti, sangat mungkin tidak akan menggunakan aksi mogok aktivitas seksual terhadap pasangannya, sebagai tanda protes bila posisinya dalam keluarga baru mereka dirasanya timpang. Tidak mungkin meniru Lysistrata, tokoh peran dalam drama komedi satir Yunani yang menyerukan sex strike pada kaum perempuan untuk mendapatkan keinginan mereka (yang sebetulnya juga sangat tidak egoistik, karena tentang menghentikan perang). Bukan hanya karena tidak mau rugi kehilangan kenikmatan seksual pasangan pengantin baru. Tapi juga karena struktur dan sistem di sekitarnya (pun di sekitar saya dan Anda) akan membuatnya merasa bahwa ketimpangan itu bukan ketimpangan. Melainkan sekadar bagian dari peran yang harus dijalankan.

Sama saja bagi perempuan ataupun laki-laki, rasanya yang penting adalah memiliki pilihan. Pilihan dengan opsi yang variatif dan menyeimbang. Selebihnya, menjadi tanggung jawab kita untuk menghidupi pilihan itu. Kalau suatu saat dalam titik kehidupan kita beralih pilihan, karena mungkin beralih peran atau karena bertambah pengetahuan, ya seharusnya tidak mengapa juga. Pilihan perempuan bisa (dan harusnya boleh) saja sederhana. Seperti sebagian lirik yang diserukan Lady Gaga dengan lagunya Boys, Boys, Boys:

I’m not loose, I like to party

Let’s get lost in your Ferrari

Not psychotic or dramatic

I like boys and that is that

 

* * *

Garuda di Dada Kaos Armani-ku

Pernah termuat di Esquire

 

Saya tulen perempuan Indonesia.

Saya bilang begini bukan karena ada yang pernah mendzholimi saya dengan menuduh, “Mbak Indo blasteran, ya? Koq mirip VJ Cathy..”. Nasib saya belum seberuntung itu, dan nasib VJ Cathy belum senaas itu.

Saya makin sadari bahwa saya asli Indonesia karena kulit saya saja rasanya asli buatan Indonesia. Kulit saya baru merasa nyaman kalau terjerang dalam ruangan bersuhu daerah khatulistiwa, minimum tropis. Seperti pada suatu hari. Untuk suatu keperluan, saya harus mendatangi suatu gedung di wilayah bisnis segitiga emas Jakarta. Tidak sanggup menunggu pihak bos yang memekerjakan saya di ruangan berAC kantornya, saya memilih menunggu di suatu kantin super sederhana di lantai basement.

Alih-alih merasa tidak nyaman karena saya saat itu satu-satunya perempuan di antara pengunjung lain yang tampaknya adalah para pengemudi kendaraan pribadi, saya justru merasa nyaman sekali. Masalahnya, kantin itu tanpa pendingin udara. Kulit saya langsung merasakan sensasi yang membuat saya rasanya ‘hidup’ dan ‘melek’.

 

“Garuda” dan “garuda”

Bahwa kulit lebih bersahabat dengan suhu udara negara itu memang tidak berarti seseorang lebih nasionalis dari yang lain. Indikatornya bukan apakah dan bagaimanakah kulit merespon iklim. Tapi bagaimana software di dalam, perasaan dan pikiran, mengartikan lalu melakoni kehidupan berbangsanya.

Saat ada bagian masyarakat yang sedikit rusuh dengan adanya gambar pada produk t-shirt berlabel internasional kelas premium Armani yang sangat menyerupai lambang negara kita, Garuda Pancasila, saya mewajibkan diri saya untuk menahan diri dari keburu menyemburkan opini. Atau emosi. Buat saya yang sesungguhnya impulsif dan mudah terpancing, beberapa elemen dari kasus itu – secara sepotong-sepotong – memang potensial untuk menimbulkan kedongkolan. Lambang negara vs. sekedar desain dekoratif. Ideologi vs. fesyen. Representasi kebangsaan vs. ekspresi personal yang didorong oleh industri komersial. “Timur” vs. “Barat”.

Saya merasa wajib mempertanyakan kegeraman saya sendiri. Andai memang Garuda saya menginspirasi penciptaan kreatif garuda lain, apakah saya patut gerah karenanya. Saat simbol dari suatu landasan ideologis memiliki kemampuan untuk dinikmati secara estetis, dan secara estetis saja tanpa melibatkan pemahaman filosofis, apakah saya perlu dibuat tidak nyaman karenanya. Dan ketidaknyamanan ini, karena apa? Tersinggungkah saya karena orang tidak memakai cara pandang yang sama? Marahkah saya akan kedangkalan berpikir desainer kelas atas yang berhasil menjual produk dengan gambar contekan tersebut pada harga USD 42? Atau, cemburukah saya karena orang lain bisa bebas merdeka memaknai sesuatu secara ringan, nyantai, cenderung kekanak-kanakan, sementara sejak kecil saya justru diajarkan untuk tunduk hormat pada sesuatu itu. Hubungan saya formal dan berjenjang pada Garuda (saya di bawah, menghormat padanya yang lebih tinggi, lebih agung), sementara orang lain bisa punya hubungan yang lebih asik, gaul, dengan sang garuda.

 

Garuda di Dada, atau Sekadar Berbulu Garuda

Bisa jadi ada alasan lain untuk geram, untuk melihatnya sebagai semacam pelecehan. Argumentasi bahwa masalah ini bukan sekadar kaos. Bukan sekedar pencontekan gambar. Apalagi variasi desain versi contekannya terkesan sekenanya, dimana lambang-lambang gambar pada perisai diganti dengan sekedar lambang X.

Tapi soal Garuda jadi garuda ini, saya belum kena betul ‘greng’nya. Saya melihatnya macam pembajak label internasional yang melabelkan merek dagang dengan cara yang menggelikan kalau tidak mengenaskan: alas kaki karet Crocs jadi Cross, parfum Burberry jadi Blueberry, permen rasa mirip Coca Cola dinamai Koka Kola.   Dan hanya berhenti di situ. Tidak lalu menyinggung nasionalisme ini itu.

Ini, justru membuat saya sedih.

Atau jangan-jangan, saya memang kurang nasionalis. Jangan-jangan saya kurang hormat akan Garuda saya itu, yang diusung oleh pendiri negara dan dicanteli berragam nilai dan makna.

Kalau benar seperti ini, saya harus introspeksi. Harus belajar lagi.

Mungkin terlebih dulu saya harus pahami dengan baik segala nilai dan makna sang Garuda. Saya harus menggali betul apa yang dilambangkan oleh seekor garuda berbulu sayap 17, berbulu ekor 8 dan berbulu leher 45 itu. Kegarudaan macam apa yang harus saya anut. Apa makna perisai dengan 5 gambar, yang membuatnya menjadi sakti dan beralih peran menjadi Garuda dengan “g” kapital. Apa sih yang hendak ditangkalnya dengan perisai itu. ‘Barat’kah? Kebebasan berekspresikah?

Atau, perisai itu untuk memerangi ketidakadilan sosial. Menghindarkan kita dari hilangnya kemampuan mendengarkan yang lain dalam musyawarah yang dinamis dan penuh kritik membangun. Dari ketiadaan persatuan. Dari hadirnya manusia-manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Dari tebalnya keakuan dan tipisnya pengakuan bahwa kita semua sejajar di mata yang Sang Satu lebih kuasa di atas sana.

Bila saya sudah paham betul akan nilai sang Garuda, maka akan saya pikirkan ulang sikap saya. Boleh jadi, bila saya benar-benar sudah simpan Garuda dalam dada saya, maka garuda di dada kaos Armani akan terasa menusuk hati saya, atau sebaliknya justru cuma jadi lelucon belaka. Sampai saya benar-benar menjelma jadi Garuda itu sendiri, saya musti berhati-hati. Jangan sampai ketersinggungan saya itu hanya di lapis luar saja, di kulit saja. Jangan sampai saya jadi sekadar perempuan Indonesia ‘berbulu garuda’, padahal asing dengan nilai dan makna Garuda itu sendiri.

* * *

84132_garuda_di_kaos_armani_exchange_300_225.jpg

Menidurkan Eyang

Semalam mimpi tentang eyang lagi.

Lengkap, ada eyang kakung dan eyang putri.

Dalam mimpi, saya sadar bahwa itu hanya mimpi. Dalam mimpi, saya menghitung bahwa ini sudah ketigakali berturutan mimpi tentang eyang lagi. Makanya di mimpi saya berpikir, ‘ah, ini hanya mimpi. Isyaratpun bukan, karena eyang dan saya bertukar kata dan bicara. Kalau orang yang sudah berpulang datang dalam mimpi dan bertukar sapa, katanya mereka datang karena hati kita merindu dan memanggilnya.’

Maka saya peluk eyang putri dan dalam mimpi saya kagum pada bagaimana bahkan dalam mimpipun bentuk, empuknya dan kehangatan tubuh eyang terasa. Dalam mimpi, saya memuji Ilahi yang membuat alam mimpi memekakan sensori.

Setelah memeluknya sambil menahan tangis, saya bantu eyang rebahan dan berusaha tidurkan. Dalam mimpi tadi, pikiran saya adalah saya ingin mimpi yang baik, dimana jalan ceritanya tidak terputus, dan eyang saya tidurkan sebagai akhir mimpinya. Jadi tidak ada pembicaraan yang terputus, pertemuan yang diakhiri tiba-tiba, atau penyudahan yang di luar kendali.

Usai menidurkan eyang putri, saya menghampiri eyang kakung. Eyang kakung di springbed yang diletakkan di lantai. Saya selimuti eyang kakung dengan selimut wool tipis berwarna off white, saya tarik sellimut hingga sebatas dada.

Sare dulu ya, eyang.. Nanti ktemu lagi..’

Selesai menidurkan kedua eyang saya, saya terbangun.

Tadi masih dini hari, badan masih menggigil karena demam sudah dua hari, dan karena selimut sudah tersibak dan tubuh tidak lagi tertutupi.

Saya tarik selimut menutupi diri, mendoakan eyang, lalu mencoba tidur lagi.

Lidi Eyang

Lewat subuh dini hari tadi mimpi eyang lagi.

Di rumah eyang di cisanggiri lagi, rumah yang pernah saya juga tinggali.

Saya duduk di ruang keluarga yang menghadap teras. Di hadapan saya bangku panjang bersandaran anyaman rotan, divernis coklat tua. Bantalan tipis pada dudukannya masih sama; warna merah tua.

Eyang putri sedang duduk santai di bangku-sofa tiga-dudukan itu, di sebelah kirinya seorang anak laki-laki kecil, di pikiran saya seperti adik saya tapi juga seolah anak laki-laki saya sendiri. Mereka seperti bercengkerama bercanda berdua, waktu eyang kakung jalan mendekati dari arah ruang dalam. Eyang kakung berpakaian rapi seperti biasanya bila eyang akan tindak bepergian; celana pantalon panjang, suspender hitam, kemeja putih lengan panjang, dan kaos dalaman putih yang lingkar lehernya menampak dari lekuk kerah kemeja yang kancing teratasnya dibiarkan tidak terkait.

Eyang berjalan bergegas. Bahkan dalam mimpipun saya merasa janggal, dan sambil tertawa menegurnya, “Eyang ngapain sih tumben jalannya cepet,”. Bergurau, saya tepuk satu pahanya saat melewati. Eyang mengambil tempat di sisi paling kanan bangku-sofa tiga-dudukan. Kata eyang, “Sini, aku ajari sesuatu. Ambilkan lidi!” Kata eyang pada anak laki-laki itu, lalu menyuruh saya ambil sapu lidi.

Kuambilkan sapu lidi, dan eyang lalu mengambil dua helai lidi yang berlainan tebal dan panjangnya. Eyang menyandingkan kedua batang lidi tersebut, ada yang hendak disampaikannya.

Namun saya terbangun. Wejangan eyang tidak akan pernah saya ketahui.

Kangen betul rasanya pada eyang.

Habit

So yesterday, when I was passing by a new pet care center in the area, I saw their phone number on the banner. The font colour is the definitive and assuring black, on the happy yellow for the background color. The phone number does not consist of duplicated numbers or apply some logical order. It is a 12-digit phone number. I was struggling to memorise it but I managed to.

Only to realise I no longer have pets to care for and take to the pet care center.

Habit breaks hearts.

Perhaps staying in a state of changing would avoid it.

Avoid the heartbreaks, I mean.

mommy berpulang

Setelah 10 tahun, hari ini pertama kali aku ngga ngerawat kelinci-kelinci peliharaan.

Kemarin, kelinci satu-satunya yang tertinggal, akhirnya berpulang juga.

Sejak dari sepasang yang pertama, kelinci-kelinciku udah beranak pinak hingga 4 turunan. Jumlah totalnya sudah puluhan. Sebagian kuberikan pada kawan dan kerabat yang sayang peliharaan dan  Yang terbanyak pernah sampai 10 bayi dari satu kali melahirkan. Namun memang kelinci termasuk yang rentan sakit dan mudah melemah kondisinya. Mudah betul sakit. Sakitpun disebabkan banyak hal – termasuk ‘stres’, misal, mendadak dengar suara yang keras atau karena kontak mendadak dgn org yang belum dikenal. Bbrp dr kelinciku menjnggal di usia 3 – 4 bulan aja :(

Dalam merawatnya aku beruntung dibantu seorang ‘ahli’. Ada pak min yang membantuku merawat kelinci-kelinci di rumah. Pak min tadinya kerja di salah satu pet shop di cinere yang tadinya sering kukunjungi untuk beli pakan hewan dan perawatan, karena lumayan dekat rumah. Akhirnya pak min kerja freelance dan jadi bisa lebih leluasa hampiri rumahku untu rawat kelinci-kelinci.

Spanjang 1 dekade itu aku juga dibantu sm dokter2 hewan. 3 dokter yg kujunjungi bergantian. Salah satunya, yang di pondok indah, yang pernah jadi tempat merawat 3 kelinci selama dua minggu saat mereka sakit. Dua yang lain prakteknya masing-masing di cinere dan karang tengah. Pak dokter yng di karang tengah ngakunya pernah jd dokter istana jamn pak harto. Pak harto skluarga pernah memelihara kelinci juga, katanya, namun seringkali kesulitan menjaga usia kelinci mereka. Kelinci-kelinci keluarga pak harto seringnya meninggal cepet karena stres suka dibawa bepergian bahkan dgn perjalanan udara. Juga keseringan diuyel2..

Kelinci yang terakhir, mommy, sebetulnya generasi ke3 dari pasangan whitey dan bolt. Anak-anaknya ada 6, sudah diadopsi teman sejaak lama. Mommy dan temennya, fluffy yg duluan berpulang, adlh 2 yg tersisa yg sengaja kupilih utk dipelihara krn mereka sdh tua, dan tentu ngga menarik lagi buat org lain utk dipelihara. Keduanya juga sakit-sakitan. Mommy dan fluffy dan raj adalah 3 yang terakhir yang pernah kutitipkan 5 bulan di petshop, karena rumah sdg dibenahi dan kandang kelinci di rumah sdg ngga layak huni. Di rmh papa tmpt kami mengungsi sementara mommy baru kembali 2 bulan dr pet shop. Saat dikembalikan, mommy dlm keadaan sakit macem2. Alhmdlh di rmh mama ikut bantu ngerawat.

Mommy tadinya lama ngga bernama. Entah gimana, cuman mommy yang ga sempet kukasih nama. Nama mommy baru kusematkan beberapa bulan ini, mengingat perannya sbg induk dr anak2 kelinci yang sehat-sehat dan nutu2… 

Sewaktu mommy berpulang kemarin, aku sdg ngga ada di rumah papa. Mommy ditemuin udah ngga bernyawa di halaman, di pojok tempat mommy suka berteduh. Ngga ada sama sekali tanda2 mommy sakit atau apa. Kemarinnya lagi, hari selasa, mommy msih lincah berlarian dan sulit ditangkap saat akan dimasukkan ke kandang. Mommy udah dikerubungi semut saat ditemukan  ….dan ada luka di kaki kanan belakang dekat tapak kakinya yg aku ga pernah tau diperolehnya kapan… 

Biasanya tiap pagi aku ke kandang kelinci dan menyapa mommy, dan keluarganya yang lain saat masih ada. Mommy akan langsung melompat keluar kandang kalau pintunya kubuka. Mommy hanya mau dielus2 sebentar untuk lalu melompat-lompat semaunya sendiri.

Tapi pagi ini kandang kelinci sdh kosong dan dibersihkan. Nyesek ditinggal pergi begini. Belajar dr kehilangan yg dulu2, aku brusaha utk melupakan kehilangan dan ga memikirkan kedekatan yg dulu ada. Memang kedengeran egois, tapi trnyata emang hrs mengurangi rasa sayang dan kehilangan agar hati ngga sedih terus-terusan.

image