Di Mata Waktu, Setiap Orang adalah Sama

dari kolom ini

Salah satu mahluk Tuhan yang paling seksi (versi saya) mau pergi lagi. Seperti biasa, si kekasih hati ini akan pergi selama beberapa hari. Saya manyun sendiri.

Jarak sebetulnya justru menciptakan kedekatan. Ini saya pelajari dengan baik dalam hidup. Meski sering mengaku sebal dan sedih setiap ditinggal, sebetulnya sering kali saya menikmati perpisahan. Mensyukuri kerinduan, mempelajari lagi rasa kesepian. Tentunya ini tentang perpisahan yang sementara. Perpisahan permanen macam yang terjadi dengan kakek tercinta yang berpulang beberapa tahun lampau, meninggalkan luka yang terlalu dalam. Rasanya kalau boleh protes pada Yang Kuasa akan saya minta perpisahan itu tidak pernah terjadi.

Tapi, yang jelas, setiap perpisahan membuat saya belajar sesuatu. Belajar menghargai waktu.

Kegelisahan Waktu

Giddens sejak hampir dua dekade lampau sudah mengingatkan bagaimana dunia modern akan mengaburkan batas ruang dan waktu. Hubungan antar-manusia terjalin tanpa harus terpaku pada konteks ruang dan waktu tertentu. Waktu telah baku dimanapun individu berada – gerak gerik waktu sama bagi siapapun dimanapun tapaknya menjejak. Sekat ruang menguap – teknologi, pola dan moda komunikasi mengijinkan keterjadian dialami oleh individu meskipun tubuh fisik absen. Meskipun seolah-olah. Setiap kita bisa jadi telanjang di depan lainnya. Teramati, teranalisa.

Keterpaparan ini sanggup menggelisahkan. Di satu pihak ruang serba-terbuka ini membuat satu pribadi memperoleh kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap apa yang di luar dirinya. Di lain pihak, ia menimbulkan tekanan emosional.

Bagaimana tidak? Kini setiap orang memiliki banyak pilihan dan teladan, untuk membantunya mendapatkan yang paling aman dan nyaman dalam kehidupan. Dan pilihan ini mencengangkan, overwhelming, baik jumlah maupun jenisnya. Belum lagi waktu yang terbatas untuk memilihnya. Juga, pengetahuan yang tidak penuh dimiliki tiap individu, sehingga timbul ketergantungan pada pihak lain untuk mengetahui konsekuensi dan resiko dari tiap pilihan yang ada. Maka pribadi di dunia modern adalah pribadi yang gelisah – yang kaya akan pilihan tapi tidak memiliki cukup waktu dan daya untuk menikmati pilihannya. Dalam Modernity and Self-Identity (1991), Giddens menyebutkan bagaimana manusia di dunia modern dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang mau tidak mau harus dijawabnya, setiap hari: What to do? How to act? Who to be?

Maka manusia modern terpaksa mengumbar rasa ingin tau, terpaksa menjadi serakah, terpaksa menjadi kembaran dari siapa yang dipandangnya mampu menaklukkan sang ruang dan waktu.

Waktu yang Baku

Meski bukan shio kerbau yang kata orang punya sifat lamban dan lebih suka berkubang dalam diam (baca: pemalas), saya didiagnosa lingkungan saya (dan yang akhirnya saya terima sebagai cacat karakter bawaan) sebagai pribadi yang tidak rajin. Eufimisme, atau iba, sama saja lah maksudnya: pemalas. Waktu saya rayu dan jadikan teman baik yang bisa diminta berhenti sejenak, tidak terus berlari. Tapi tentu saja, waktu tidak dapat menanggalkan karakternya: ia terstandarisasi. Ia baku, kaku, menderu dan memaksa orang berpacu. Ini adalah adagium yang sahih: di mata waktu, setiap orang adalah sama. Di penghujung waktu, saya juga yang harus berlari tergesa mengejarnya, mengejar ketinggalan saya. 

Sama sekali bukan pilihan yang cerdas untuk hidup di dunia modern.

Tapi tak mengapalah, ya? Setiap orang punya pilihannya. Giddens saja menghaturkan konsep reflexivity, yang mengenali adanya kemampuan individu untuk melakukan sumbang-balik pada lingkungan di sekelilingnya, tidak melulu dicekoki pengaruh dari luar dirinya. Sekali-sekali, orang-orang yang terkesan pemalas mungkin bisa jadi banding bagaimana waktu bisa saja disikapi dengan sedikit lebih bersahabat, becanda, ringan dan tidak mengancam. Bahwa dunia modern, dan kehidupan di dalamnya, tidak mesti tentang ketergesaan karena waktu.

Penolakan, pengingkaran, atau rekayasa alasan? Mungkin kesemuanya. 

Andai saja waktu tidak berlalu sedemikian cepatnya. Agar mampu dinikmati setiap detiknya. Maka bila ia kembali nanti, inginnya saya hanya bergelung di pelukannya, berdiam diri dan berharap waktu luruh di sekeliling kami.

bunyi hujan

image

rindu akan bunyi hujan

rindu akan bunyi hujan yg kudengarkan sama kamu

rindu akan bunyi hujan yg kudengarkan sama kamu yg rindu aku dan minta ketemu

rindu akan bunyi hujan yg kudengarkan sama kamu yg rindu aku dan minta ketemu tanpa mau kenal waktu seberapa lama aja kamu ingin ketemu

rindu, rindu akan bunyi hujan.

collage dari http://www.phub.net

lagu yang terputar di kepala setiap bangun pagi

tiap bangun pagi, hampir slalu ada lagu secara otomatis terdengar di dalam kepala.

benar-benar hampir di stiap pagi. ataupun saat terbangun kesiangan. seingatku, ngga pernah terjadi saat bangun dari tidur siang, atau bila terbangun di tengah malam.

aku pernah coba hiting-hitung, apa ada kaitannya dengan jumlah jam tidur. all those things about REM atau apa itu lainnya. tapi lagu terputar baik setelah jumlah jam tidur yang memadai ataupun tidak.

aku pernah coba kaitkan dengan kepuasan / seberapa dalamnya aku jatuh ke alam tidur, malam sebelumnya. ukurannya adalah apakah saat terbangun aku merasa segar atau masih tersisa lelah. nyatanya, lagu terputar di kepala di saat tubuh kembali bugar, ataupun saat malam sebelum tidur gagal membuatku ngerasa segar.

aku pernah cari tau, apa beberapa hari sebelumnya aku pernah dengar atau pikirkan lagu yang terdengar. tapi, gagal. aku belum bisa dapatkan hubungannya. ya meski mungkin saja emang ngga scara langsung terpapar, namanya juga alam bawah sadar.

alam semesta melakukannya pada sesuatu di kepalaku di saat malam dan tidurku.

pagi ini, yang terputar adalah real girl nya mutya buena. i havent heard of that song in a million year. i wasnt even thinking of it.

sama skali ngga ada pikiran akan lagu itu.

smalam habis saksikan pertunjukan broadway beauty and the beast, dan sebelum tidur justru memikirkan beberapa lagu yang disajikan di dalam pertunjukan itu, dan menyenandungkannya sendirian sblm tertidur.

belum pernah terputar lagu yang gak kusukai, saat terbangun dari tidur di pagi hari. jadi, makasih semesta, untuk memainkan lagu yang kusuka, seperti kejutan dan tiba-tiba, saat terbangun dari tidur di pagi hari, di dalam kepala.

at nights

at nights, we were always three
you, me, and the ever-present feeling of being lonely

as if a day creeping into an evening meant only death
to what we could have been

as if we grew farther by reaching to one another

#kalimili

Dad

Happy bday, dad

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.

💟 Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa” 💝

🌻 “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil” 🌼

Marry Me

saya dan dia sedang berputar-putar di selatan kota dalam mobil lamanya. kelaparan yang sempat terlupakan karena waktu ketemu yang selalu terlalu sebentar rasanya, malam itu dia memutuskan kami mampir saja ke tempat jajanan seadanya.

(tentang tempat itu. tempat jualan penganan yang berragam dan semuanya dengan cita rasa kampung dan gurih berlebihan. kami pernah menyambanginya sebelumnya – ia tau saya suka betul kalau ia mengajak saya ke tempat-tempat unik demikian. saat itu tempat itu adalah salah satunya. tampilannya biasa saja, bangunan semi permanen yang menempel pada rumah sakit kelas atas di bilangan selatan. mungkin setiap tempat memang jadi istimewa kalau ia yang membawa saya mengunjunginya.)

dari jalurnya, mobilnya menepi menyilang. kami parkir di kanan jalan.

sebelum kami keluar, radio melantunkan lagu lama yang sebelumnya hanya jadi latar belakang obrolan kami, tadinya tidak betul-betul kami dengarkan. irama dan jenis lagunya sama sekali bukan kegemarannya, tapi ia menangkap sepotong liriknya.

tuh, katanya. saya sudah tau kalimat mana yang dimaksudnya. saya berpura-pura sebentar menunggu. penyanyinya mengulang bait yang sama. i think i wanna marry you.

saya bisa merasakan pipi saya menghangat, tersipu dan kehilangan kata cerdas yang harusnya saya lontarkan dalam lagak canda ringan, sekadar menunjukkan saya tidak sebegitunya termehek-mehek apalagi terpesona. ia keluar mobil. saya menenangkan hati yang berdebar sebelum menyusulnya keluar. ia menunggu saya berdiri di sisi depan mobil. setelah saya menjajarinya, kami bersama melangkah ke pangkalan jajanan, bertingkah seperti biasa saja, memesan makanan yang tinggal seadanya, dan saya tidak lagi merona.

malam itu sebtulnya kami telah menikah untuk beberapa waktu lamanya. bahwa ia menangkap lirik menye-menye begitu dan menyorongkannya lagi ke hadapan hati saya, mengharubiru saya. mungkin ia becanda, mungkin ia cuma tidak ingin romantisme kami kadaluarsa. nyatanya, lirik seadanya itu menyentuh hati saya.

touches me still, remembering it, tenderly.

i love you always, #pohonjati.

Mencari Hantu Masa Lalu Saat Makan Siang

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi pada suatu hari dimana saya mendapat kesempatan untuk ngobrol panjang sambil makan siang enak dan banyak dengan seorang editor penerbitan besar.

Mbak editor ini sejak awal perkenalan sudah terkesan ‘asik-asik aja’ dan gak ribet. Baru pada saat ngobrol panjang itu saya dapati bahwa si mbak juga lugas dan jujur. Soal bahwa ia cerdas dan bagaimana pengetahuannya akan buku dan bacaan begiu banyak, saya ngga terlalu salut karena jabatannya memang mensyaratkan itu dan mengisyaratkannya pada siapa yang tau akan posisi dan tempat kerjanya.

Yang saya mau ceritakan di sini adalah bagaimana kelugasan dan kejujuran seseoranglah yang membuat kita bisa banyak belajar. Bukan karena si mbak cerdas aja. Bukan karena ia asik dan friendly aja. Bukan karrna posisi dan jabatannya.

Dan si mbak mengajarkan saya untuk mempertimbangkan apakah saya perlu mencari hantu masa lalu saya. Kalaupun tidak ada, saya perlu mencari sesuatu yang bisa memacu saya.

Mengapa hantu? Apa yang perlu dipacu?

Brawal dr mbak editor nemuin tulisan saya di suatu buku, lalu tertarik menerbitkannya. Cerita-cerita saya pun saya kumpulkan, lalu dibaca oleh si mbak. Dan siang itu adalah pertama kali kami ngebahasnya.

Yang pertama dan langsung disampaikannya adalah, bahwa cerita-cerita saya yg mnurutnya adlh kritik sosial dgn gaya penulisan yg bagus (biasalah pujian dtg duluan… 😋) masih butuh keragaman tema (tangkapan saya adlh tema cerita tentunya). Lalu sebaliknya, ada beberapa cerita yg bernuansa sama sekali berbeda, yg membuat keseluruhan ‘paket’ jadi seperti kabur fokusnya.

(Yg dimaksud mbak editor tentunya adlh cerita2 cinta yg terilhami dari kisah orang2 yg saya temui.. yg emang sy masukkan aja dalam paket saya karena memang begitulah hati dan pikiran saya – ngga melulu soal kritik ngga melulu soal cinta).

Sy beruntung karena mbak editor ini dengan sgala kritiknya ternyata menyukai karya saya. Ia membandingkan tulisan saya dgn penulis perempuan lain (otomatis saja, bukan berarti kami jadul dan mengotak-kotakkan diri dlm apa yg dulu sering disebut org sbg sastra wangi). Beberapa penulis terkenal rupanya bukan favoritnya, karena ringan dan seadanya. Beberapa dianggapnya dibayangi hantu masa lalu, sehingga cerita mereka selalu bgitu dan dibaca seakan sama melulu. Bagus  krn tajam di satu sisi, jadi membosankan di sisi lainnya.

Saya disebutnya tidak punya hantu masa lalu. Tanpa kenal saya sebelumnya, ia menebak;

“Kamu ini masa lalunya pasti bahagia. Mamanya siapin masakan enak, papanya rame. Pulang sekolah diantar jemput. Ngga ada yg ngebully – itu liat di crita kamu ngga ada kan ttg org dibully?”

Lalu, diteruskannya demi mengingat pekerjaan sambilan saya sebagai peneliti dan 2 cerita saya sebelumnya yg saya bocorkan merupakan hasil rekayasa kisah kehidupan orang yg saya temui saat penelitian di banjarmasin dan balikpapan;

“Kamu itu sensitif banget, td aku crita aja kamu trenyuh ampe kyq gitu. Kamu trenyuh, org koq bisa kayaq gitu, gimana rasanya, gitu. Kamu nulis krn kegelisahan. Tapi ya gitu, jdnya, saat nulis yg kamu pikir; ‘orang miskin mana lagi yaa yg aku tulis?’ “

I laughed at her last comment. Mana pula dilakukannya sambil membayangkan tingkah saya: kdua siku bertelekan di meja, kedua tangan bertemu pd ujung2 jari dan saling menepuk2 ringan.. berpikir keras..

Tapi itu sebetulnya bukan laughing matter. Itu serius sekali, masukannya. Dan… betul sekali, bgmn ia bayangkan kegelisahan sy yg kurang menggurat tajam krn seringkali lbh berupa gabungan kemarahan, rasa ktdkberdayaan, pikiran ktdkmampuan mncerna apa yg sbtulnya trjadi.

Pikiran saya majemuk dan kalut sendiri, tertuang dlm tulisan yg warna warni, kurang bergigi. Saya tdk punya hantu masa lalu, sy mngamati dlm sangkar kniscayaan2 dan kemengaliran hidup sy, melihat hantu2 org berlalu. Sy terharu, mngutipnya, tapi duka org tdk lalu terinternalisasi dlm kata.

Mbak editor meminta sy lbh byk lg membaca. Sy memang jujur bilang kalau sy kurang byk membaca – beli buku, sering dan byk. Baca buku, jarang. Dgn membaca, ngga hanya mendengarkan cerita org dan terlara-lara sendiri saat merasakannya, sy bisa belajar bagaimana org bermain dgn kata, dan mnggunakan utk menguatkan rasa.

Saya berterimakasih sekali pd mbak editor ini. Belakangan ia cerita tentang masa kecilnya – yg membuat sy tertawa skaligus ngerasa nyeri di dada. Masa lalu kmi memang sgt berbeda. Mungkin itu pula sebabnya ia bisa menebak dgn begitu tepat ttg masa lalu saya. Kalau lbh lama lg wktu yg kami punya utk ngobrol, sy hampir yakin pasti mbak editor bisa menebak koleksi sanrio sy saat kecil, sgala macam les yg tdk pernah sy tuntaskan, hari2 sekolah yg sy pakai buat bolos sekolah dan jalan2 sm orgtua sy atau buat tidur2ran aja di rmh krn sy malas bangun pagi dan mama ijinkan sy dr keharusan masuk sekolah.

Sy tdk punya hantu masa lalu. Tdk berarti agar punya tulisan bagus dan karya dgn kualitas yg konsisten hal itu jd perlu. Tp saya butuh sesuatu yg membuat sy terpacu. Sesuatu yg membuat sy merangkai kata tdk hanya utk menyampaikan cerita, tapi yg juga bisa menggelorakan rasa.